Progressive Rock Concert, Salihara, 17 April 2010
Saya merindukan pertunjukan musik yang tak hanya menyajikan musik, tapi juga menyuguhkan sebuah pesan, menawarkan satu pilihan . Merogoh emosi dengan dengan suasana yang hikmat.
Malam itu 17 april 2010 kerinduan itu terpenuhi, saya menyaksikan penampilan Kadri yang berduet dengan Yuyun (vokalis Discus). Itu adalah kali pertama saya hadir di pertunjukan Kadri.
Meski saya tak mengenal lagu lagu Kadri tak hilang rasanya energi yang memancar dari panggung. Satu lagu yang di persembahkan untuk Soekarno memaksa saya menahan napas. Lagu tentang Soekarno yang pernah besar lalu terasing dan dicaci dibawakan dengan luar biasa, menggugah emosi seolah mengajak melawan kesewenang-wenangan. Lagu ini mengingatkan saya pada tumpukan buku mulai menguning dirak buku saya. Buku kumpulan tulisan para pendiri Republik ini.
Dengan diiringi cello dan piano saya lebih merasa menikmati sebuah teater dari pada konser musik. Yuyun tak kalah atraktifnya, walaupun tidak seperti ketika tampil bersama Discus, tapi tetap bahasa tubuhnya tak bisa menyembunyikan gerakan tarinya menambahkan unsur magis panggung yang gelap berlatarbelakang gambar awan kebiruan. Sayang memang tak banyak lagu yang bisa ditampilkan, bagaimanapun mereka harus berbagi dengan dua band lainnya.
Sebelumnya tampil menggebrak Puguh the Shredder membuka konser dengan rasa klasik rock dan pamer kemampuan mengobrak abrik gitar.
Puguh yang memakai twin gitar -dua buah gitar yang lebih mirip kembar siam- ketimbang twin gitar (gitar kembar) yang memungkinkan dimainkan secara bersamaan dengan tangan kanan dan tangan kiri. Dan itulah yang cukup mengagumkan, meskipun tidak memainkan komposisi yang terlalu rumit tetapi tetap saja memainkan solo dengan duatangan di dua neck berbeda tentu perlu keahlian yang luar biasa. Tidak lupa beberapa nomor “pemanis” dari Deep Purple ikut diusung yang menurut saya lebih menunjukan kurang percaya diri membawakan lagu mereka sendiri.
Band terakhir yang tampil adalah Hamonik Distorsi tampil menutup acara yang rasanya –ini subyektifitas personal— kok kurang pas yah di acara Progressive Rock Concert, band ini antiklimaks. Memang ini resiko di musik progressif yang rentangnya terlalu luas. Rasanya sulit memenuhi semua fantasi hanya dengan satu subgenre saja. Tapi “rasa” terhadap band ini sepertinya hilang dibandingkan dengan misalnya Zeke And The Popo dan Efek Rumah Kaca yang rentangnya juga jauh dari sederet bend kesukaan saya seperti Dream Theater, Symphony X, Mindflow, Pain of Salvation dll, ZAPP & ERC masih enak dinikmati, Ah mungkin karena Harmonik Distorsi lebih banyak memainkan Nine Inch Nail, dan era NIN lah yang telah membunuh Heavy Metal dari jagat hiburan Dunia … ini soal sentimentil belaka … tapi bagaimanapun Progressive Rock Concert harus berlanjut … dan malam itu kerinduan itu datang dan tersaji. boleh sedikit sentimentil dan melankoli … toh Soekarno juga seorang yang melankolis tapi mampu mengawal revolusi Republik ini! Ziiih

baru kali ini saya melihat bassist main 2 bass…
great …