Blues yang Metal
Perjuangan menuju Djarum Super Jakarta Blues Festival cukup merepotkan, kemacetan memang menu wajib di Jakarta, tapi bukan di situ persoalannya, keengganan orang mengantri yang membuat kemacetan semakin parah. Hati yang sabarlah yang menuntun sampai di venue.
Masuk ke Parkir Timur, kita membayar karcis tanda masuk Rp. 3.000,- lalu mencari tempat parkir, dapat tempat sekitar 50 M dari pintu Istora, lumayan dekat, hanya kok di minta uang parkir lagi Rp. 5.000,- ya? sama preman pula. Sekali lagi sabar, sabar, ini Indonesia negeri yang dikuasai preman.
Memasuki venue saya panggil teman saya Goldha, dia yang pegang tiket bersama rekan2 dari i-rock. Setelah ketemu dan berhasil masuk pas break azan maghrib, jadilah nongkrong sebentar buat ngisi perut.
18.30 menuju Red Stage, tempat Tjahjo Wisanggeni dijadwalkan manggung. Tjahjo memang membawa peralatan (gitar dll) yang lumayan banyak, tapi rasanya kurang dipersiapkan dengan matang. Tjahjo buat saya seperti dongeng superhero, hebat tapi tidak nyata. Modal saya tentang Tjahjo hanya memiliki
kasetnya From The Other Side selebihnya adalah berita berita yang diragukan keakuratannya, di internet miskin informasi tentangnya.
Kondisi tersebut tentu membuat malam itu jadi istimewa, kondisi yang hampir tidak mungkin menyaksikan Tjahjo di panggung terpatahkan malam itu. Dream Come True. Keluar dengan celana karet ketat, kemeja bermotif macan, dan gitar fender stratocaster berwarna merah hati. Tjahjo membawakan lagu Rayuan Pulau Kelapa dengan aransemennya mmm luar biasa.

Tjahjo Wisanggeni dengan Fender Stratocaster Biru Telor, Tjahjo tampil dengan membawa peralatan satu mobil box.
Lagu kedua Hiroshima Nagasaki membuat merinding, Hiroshima Nagasaki diambil dari album From The Other Side. Ini adalah salah satu lagu favorit di album tersebut, lagu yang dashyat!!!!! Lagu yang menurut saya kualitasnya melebihi apa yang bisa dilakukan orang Indonesia pada jaman itu (tahun 1990). Lagu berikutnya saya tak terlalu mengenal tapi saya tetap menikmati, sajian terus berlanjut dengan Dodi katamsi di Vokal, Inang Noorsaid di Drum dan Adi darmawan di bass serta satu lagi Wendy di Kibor. Lagu demi lagu saya nikmati terus, sayang sajian Tjahjo memainkan sitar tidak terlaksana karena kurang siapnya peralatan mereka.
Secara keseluruhan konser ini agak berantakan, rasa kangen dan ketidakpercayaan bisa menyaksikan Tjahjo -lah yang menutup kekurangan itu. Disana sini permainan Tjahjo rada kehilangan tune, tidak sehebat dan serapi di kaset. Mengejar tempo membuat gerakan sweep picking seperti dipaksakan. Ditambah lagi Tjahjo kurang komunikatif dengan penonton, energi yang disia-siakan. Tjahjo main sebelum The Sigit, penonton yang menunggu The Sigit kebanyakan remaja, dan saya yakin mereka tidak tahu Tjahjo, dengan perkenalan yang kurang saya yakin tidak banyak membekas di hati para remaja itu. Sudahlah setidaknya penantian dari tahun 90′an terobati, menyaksikan Tjahjo.
Setelah Tjahjo Usai saya tak menikmati The Sigit –sebelumnya saya pernah menikmati penampilan mereka di Jakarta Rock Parade–, saya lebih suka ke dalam Istora menyaksikan Kara Grainger, saya ingin menulis Kara secara terpisah. Setelah Kara, saya kembali ke Red Stage dimana Fonticello sedang memainkan cello-cello mereka dengan nada nada yang berat, cadas dan cepat. Cello mereka dibuat “custom” dengan dudukan untuk memudahkan gerakan headbang dan
distorsi yang membuat cello tak lagi lembut tapi cadas!!!. Lagu Master of Puppet terlewatkan oleh saya, tapi saya masih dapat bagian lagu lagu mereka sendiri, Slipknot, Sepultura dll. Yang menarik adalah kaos mereka I’m Cellist, not guitarist. Sebuah klaim yang percaya diri.
Fonticello seperti menutup tulisan besar dibelakang panggung Jakarta Blues Festival dan embuatnya punah, bukan Blues yang mereka sajikan tapi Blues yang telah berevolusi menjadi Metal. Di Red Stage Tjahjo dan Fonticello merajut Blues dan Metal dua jenis musik yang memang nyantol di kuping dengan nyaman, Blues yang Metal. I’m done…..


