Marah!!!

Mendengar dentingan nada yang aku hafal betul, aku langsung berteriak…. dan mengepalkan tangan meninju langit, suara orang-orang menggemuruh, seolah-olah Tennis Indoor Senayan hendak runtuh, sesaat kemudian aku rapatkan kepalan tangan ke dada kiri, tanpa di komando ribuan orang melakukan hal yang sama, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Dipanggung yang temaram dengan gambar pisang sebagai latar belakang, disinari lampu biru keunguan dan lampu sorot mengarah ke Don Airey yang dengan khusuk memainkan papan keyboardnya. Rasa bangga membuncah malam itu, bangga menjadi bagian dari bangsa yang diproklamirkan Soekarno-Hatta, Indonesia.

Malam itu aku langsung terkenang tokoh-tokoh pergerakan Indonesia yang aku kagumi Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, Agus Salim & Tan Malaka bahkan tokoh fiksi Pramoedya Ananta Toer dalam Tetraloginya Pulau Buru, Mingke turut mengisi lamunan malam itu. Atmosfer malam itu memang terasa sangat emosional, Nasionalisme yang dipacu kencang oleh nilai-nilai universal. Malam itu 12 April 2004, Deep Purple mengguncang Jakarta, ditengah solo keyboardnya Don Airey pengganti Jon Lord melantunkan Indonesia Raya melalui jari-jarinya.

Malam ini lamunan itu kembali hadir, tapi dengan atmosfer yang sungguh menyedihkan, malam ini aku rasakan gagasan-gagasan cemerlang para pendiri bangsa ini lenyap entah kemana, logika mistis yang ditentang habis oleh Tan Malaka tak kunjung sirna dari bumi Indonesia. Cara berpikir materialisme, dialektika dan logika yang didengungkan Madilognya Tan Malaka dan Dibawah Bendera Revolusinya Soekarno hanya milik secuil akademisi yang belum terbeli dan beberapa gelintir anak muda di rumah kontrakan yang pengap.

Bagaimana tidak, disaat Singapura sedang gigih memboyong band-band besar tampil dinegeri itu sebagai upaya mendorong pariwisatanya, kita justru terjebak dalam sesat pikir berkepanjangan. Alih-alih kematian penonton usai konser Beside menjadi bahan perenungan untuk pembinaan finansial dan manajemen , pemenuhan ruang filosofis dan ruang publik untuk berkreasi yang memadai, yang terjadi hanyalah bias logika.

Kita memang memiliki memori yang pendek. Kematian penonton konser tak hanya terjadi di arena musik cadas seperti Beside. Sheila on 7, Gigi, dan Ungu pun tak luput memakan korban. Jenis musik tak jadi soal ketika itu. Tidak bagi Beside. Musik yang keras dan dandanan yang khas seolah telah diincar lama untuk dicerca, media dan publik tidak tahu atau hanya menutup mata bahwa jenis musik inilah yang jujur dan paling lantang meneriakan ketidakadilan dan anti penindasan.

Bagiku, terlepas dari ketidaksiapan mengantisipasi ribuan penonton, panitia konser Beside dan komunitas underground adalah pahlawan bagi kemajuan musik Indonesia. Mereka menempuh resiko terlalu besar untuk bisa menampilkan band yang belum pernah –dan sulit rasanya– muncul di televisi. Kematian penonton bukan karena Beside bersulang bir dengan penonton, bukan karena jenis musik, tapi aku percaya lebih pada kelalaian kita bersama, tidak adanya gedung konser yang memadai, ketidaksiapan polisi dan Rumah Sakit serta Ambulance yang terlambat datang. Ah, malam ini aku kembali melamun, seandainya para pendiri bangsa ini masih ada, ruang publik seperti monas mungkin bertebaran di seluruh kota di Indonesia, akan banyak tempat seperti komplek stadion senayan dan Gedung Kesenian Jakarta dibangun, literasi media rakyat Indonesia tidak seburuk sekarang. Tapi, sebaiknya aku hentikan lamunan ini, besok aku harus siap jadi roda penggerak kapitalisme, …. Sebelum tidur nikmat rasanya mendengarkan Internasionale versi Tang Dynasty yang ngerock abis……… the internationale unite the world in song.

Depok, 14 Februari 2008


2 Responses to “Marah!!!”

  1. nice argue bro….
    keep rockin …peace

  2. sedih aja bos, beberapa band besar di monopoli hanya untuk konser di Singapura untuk kawasan Asia Tenggara sebagai alat pancing pariwisatanya. mereka sediakan tempat khusus konser di fort canning. padahal praktis mereka tak punya cukup banyak bakat di musik, bandingkan dengan negeri kita ini, kalau mau disisir tiap pulau ribuan Band siap ngantri dari berbagai aliran musik. Tapi pemerintah seolah tutup mata, miris rasanya.Sarana untuk konser praktis tidak ada (kalaupun ada yakinlah pasti tak terjangkau harganya)untung masih ada bulungan yang masih cukup bersahabat. tapi di kota lain seperti apa nasibnya? yah begitulah jangankan memancing band band besar untuk tampil di negeri ini sebagai sarana menjaring wisatawan datang, malah band band kita yang terpaksa rekaman diluar negeri karena tak merasa dihargai di negeri sendiri.

    Salam
    Yoega Diliyanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.